Pemyakit KOI : Aeromonas

AEROMONAS DAN CARA PENANGGULANGANNYA

22/11/2017


 

No Comments

Bagi para pehobi ikan KOI pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah Aeromonas atau Aeromonas Hydrophila dan sebagian besar pasti mempunyai pengalaman buruk dengannya.  Aeromonas Hydrophila adalah nama bakteri pathogen yang sangat merugikan bagi para pencinta KOI dan para petani yang berbudi daya ikan KOI, karena bakteri ini mampu menghabiskan 80% ikan KOI dikolam dalam waktu singkat (1 – 2 minggu).  Tercatat pernah terjadi wabah di Jawa Barat pada tahun 1980 an yang menghabiskan 120 ton ikan yang merugikan petani, pada saat itu penyebabnya dikenal dengan  istilah Ulcerative disease� atau penyakit borok yang menyebabkan kematian.

Penyebab utama munculnya bakteri Aeromonas Hydrophila adalah karena kualitas air yang buruk,  yang disebabkan dari banyak hal antara lain,

Kepadatan ikan dikolam yang terlalu tinggi


Perubahan iklim dari musim kemarau ke musim hujan.


Penurunan temperatur air yang cukup tinggi.


Banyaknya curah air hujan yang masuk kekolam yang mengakibatkan air menjadi asam.


Pemberian pakan yang berlebihan.


Kurang nya oksigen (DO) didalam air.


Faktor lain yang menyebabkan kualitas air menurun.


Bakteri Aeromonas Hydrophila ini bisa menyebar melalui air, kotoran burung atau ikan baru yang tidak melalui proses karantina.    Bakteri  ini memiliki kekuatan osmoregulasi yang tinggi sehingga dapat bertahan hidup pada perairan tawar, perairan payau serta air laut yang mempunyai kandungan garam tinggi, sehingga pengobatan dengan bom garam akan sia-sia untuk memberantas penyakit ini.    Bakteri Aeromonas Hydrophila adalah jenis bakteri yang dicirikan dengan batang pendek, berbentuk aerob serta fakultatif anaerob, tak berspora, motil, memiliki satu flagela, hidup pada rentang suhu 25-30°C.  Tidak hanya ikan bakteri ini juga dapat menyerang manusia dimana menyebabkan infeksi pada gastroenteristis, diare dan extra intestinal pada manusia

Proses invasi bakteri patogen Aeromonas hydrophila  kedalam tubuh host adalah diawali dengan melekatnya bakteri pada permukaan kulit dengan memanfaatkan pili, flagela dan kait untuk bergerak dan melekat kuat pada lapisan terluar tubuh ikan yaitu sisik yang dilindungi oleh zat kitin. Selama proses berlangsung bakteri Aeromonas hydrophila  memproduksi enzim kitinase  yang berperan dalam mendegradasi lapisan kitin sehingga bakteri dapat dengan mudah masuk kedalam host. Selain memanfaatkan kitinase bakteri Aeromonas hydrophila  juga mengeluarkan enzim lainnya seperti lesitinase dalam upaya  masuk kedalam aliran darah (Mangunwardoyo et al., 2010).

Bakteri Aeromonas hidrophyla termasuk patogen oportunistik yang hampir selalu terdapat di air dan seringkali menimbulkan penyakit apabila ikan dalam kondisi yang kurang baik. Penyakit yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophilla ditandai dengan adanya bercak merah pada ikan dan menimbulkan kerusakan pada kulit, insang dan organ dalam. Penyebaran penyakit bakterial pada ikan umumnya sangat cepat serta dapat menyebabkan kematian yang sangat tinggi pada ikan-ikan yang diserangnya. Gejala klinis yang timbul pada ikan yang terserang infeksi bakteri Aeromonas hidrophyla adalah gerakan ikan menjadi lamban, ikan cenderung diam di dasar akuarium; luka/borok pada daerah yang terinfeksi; perdarahan pada bagian pangkal sirip ekor dan sirip punggung, dan pada perut bagian bawah terlihat buncit dan terjadi pembengkakan. Ikan sebelum mati naik ke permukaan air dengan sikap berenang yang labil (Rahmaningsih, 2012).

Bakteri Aeromonas ini sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan kematian seluruh isi kolam jika kita terlambat mengantisipasinya, padahal wabah ini dapat kita cegah dan lokalisir jika kita mengetahuinya sedini mungkin.   Salah satu caranya kita dapat mengidentifikasi melalui pengamatan visual tanda tanda dan fase penyakitnya antara lain,

Fase 1, Ikan diam menyendiri dipojok kolam atau didekat pancuran air biasanya didahului dengan flashing, ini adalah gejala awal dan umum dijumpai walaupun belum pasti terkena wabah Aeromonas, namun untuk amannya sebaiknya dipindahkan ke kolam karantina untuk penanganan lebih lanjut, pada umumnya ikan pada tahap ini masih bisa pulih kembali setelah dikarantina dengan treatment antibiotik yang ada dipasaran.


Fase 2, Pada pangkal sirip pectoral terlihat membengkak kemerahan diikuti dengan warna kusam atau merah pada tubuh kadang terdapat lendir diseluruh tubuh, ikan terlihat lesu dan lebih banyak diam.  Ini adalah fase lanjutan terjadi tidak lebih dari sehari apabila pada gejala awal tidak segera kita tangani.   Ikan pada fase serangan ini masih dapat disembuhkan dengan prosedur karantina menggunakan antibioti dalam 2 atau 3 hari karantina.


Fase 3, Pada fase ini pertahanan tubuh ikan sudah tertembus dan dampak yang ditimbulkannya sangat desdruktif ditandai dengan sisik yang berdarah sampai timbul borok yang berlubang.  Jika sudah sampai tahap ini kemungkinan sembuh kembali hanya tinggal 50% dengan perawatan yang intensif menggunakan antibiotik dan anti fungus (jamur).


Fase 4, Gerakan ikan tidak terkontrol karena bakteri sedah merusak sistem saraf, kadang ikan terlihat kejang-kejang disertai beberapa bagian tubuh yang membusuk .  Kemungkinan hidup ikan pada tahap ini tidak lebih dari 10% dan sudah terlambat untuk ditangani, namun tidak jarang dengan pengobatan antibiotik yang cukup ada yang masih bisa diselamatkan.


Prosedur Karantina untuk ikan yang terdeteksi Aeromonas.

Siapkan bak karantina yang mencukupi untuk ukuran ikan agar ikan masih cukup untuk bergerak tetapi jangan terlalu besar untuk mengefisienkan penggunaan obat.


Isi bak dengan air dan buat temperatur 28-30 derajat C, gunakan heater jika iperlukan.


Pasang aerasi yang cukup atau pompa sirkulasi.


Gunakan antibiotik yang umum dijual dipasaran atau obat yang dikhususkan untuk aeromonas.


Masukan ikan kedalam kolam


Ganti air setiap hari setiap 12 jam dengan cara mengeringkan sampai tinggal 10%-20% dan ganti  dengan air baru.


perhatikan buih nya jika air masih penuh buih teruskan pengobatan, jika buih sudah menghilang hentikan pengobatan dan lanjutkan karantina normal.


 

Untuk mengantisipasi atau pencegahan serangan wabah ini dapat dilakukan tindakan berikut,

Check parameter air secara berkala.


Lakukan vaksinasi dengan vaksin Hydrovac minimum 6 bulan sekali.


Beri pakan pelet yang telah dicampur Oxytetracicline atau bawang putih.


Ganti sebagian air kolam 10% – 30 % secara periodik untuk mengurangi nitrit yang berlebih.


Kurangi jumlah ikan di kolam jika dirasa terlalu padat.


Hindari pemberian pakan berlebihan.


Pisahkan segera ikan yang dicurigai memiliki tanda-tanda klinis terserang bakteri.


Jangan memasukan ikan baru kedalam kolam tampa melalui proses karantina.


Beri aerasi yang cukup dikolam


 

(KOI Art/DW)

Komentar